Skip to main content

AS Bangun Markas Militer Terbesar di Korea Selatan

AS
Amerika Serikat (AS)


KABAR.NEWS, Washington - Pasca pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un di Singapura, latihan bersama antara AS dan Korea Selatan pun dihentikan.


Sebagai gantinya, AS akan membuka markas besar di Korea Selatan (Korsel). Markas besar itu disebut sebagai basis militer terbesar AS di dunia. 


AS dan Korsel merupakan sekutu militer berdasarkan traktat keamanan. Selama puluhan tahun, pasukan AS di Korea (USFK) memiliki markas besar di Yongsan, di jantung kota Seoul. 


Baca Juga: 


Pada tahun 1990 silam, kedua sekutu tersebut sepakat untuk memindahkan markas besar tersebut ke Kamp Humphreys, pangkalan militer di Pyeongtaek, sekitar 60 kilometer selatan Seoul, ibu kota Korsel. 


Namun proyek pemindahan tertunda selama bertahun-tahun akibat aksi-aksi protes warga, masalah keuangan dan perkerjaan konstruksi yang luas. Akhirnya, baru pada tahun 2013, unit pertama dipindahkan ke Kamp Humphreys.


Markas besar USFK resmi dibuka di Kamp Humphreys pada Jumat (29/6) waktu setempat. Begitu pula dengan Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pimpinan AS, dengan unit-unit lainnya akan menyusul nanti.


Komandan USFK Vincent Brooks mengatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (30/6/2018), pemerintah Korsel telah menyumbang lebih dari 90 persen dari biaya pembangunan Kamp Humphreys yang mencapai US$ 10,8 miliar.


"Sembilan puluh persen dari biaya-biaya itu, dan untuk sembilan puluh persen itu, Amerika Serikat tetap bersama Anda 100 persen," ujar Brooks dalam seremoni pembukaan markas besar itu.


Di Kamp Humphreys terdapat 513 gedung termasuk sekolah, toko dan bank yang tersebar di area seluas lebih dari 14,7 juta meter persegi, dan akan bisa menampung hingga 43 ribu orang, termasuk para tentara dan keluarga mereka hingga akhir tahun 2022 mendatang.


AS diketahui menempatkan sekitar 28.500 tentaranya di Korsel untuk membela negeri itu dari Korea Utara yang memiliki senjata nuklir. 


Beberapa pekan lalu, usai pertemuan bersejarah dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un, Trump mengumumkan akan menghentikan latihan militer AS-Korsel. Bahkan Trump mencetuskan, "Saya ingin membawa pulang tentara-tentara kami."