Skip to main content

Tim Hukum Appi-Cicu Soroti KPPS di Tamalate Perlihatkan C1

Pilkada
Sejumlah anggota KPPS di Kecamatan Tamalate saat menunjukkan data C1 saat jumpa pers di salah satu warkop di Kota Makassar.(KABAR.NEWS/Andi Frandi)


KABAR.NEWS, Makassar - Ketua Tim hukum pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Makassar, Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu), Amirullah Tahir menanggapi sikap sejumlah petugas KPPS di Tamalate yang menyelenggarakan konferensi pers terkait hasil C1. 


Menurut dia, bukan tugas KPPS mengumumkan hasil C1 melalui jumpa pers, melainkan, KPPS menyampaikan data tersebut ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk di input di sistem informasi perhitungan suara (Situng). 


Begini isi tulisan dari Amirullah Tahir yang dikirim ke KABAR.NEWS:

 

Tim Appi-Cicu tidak usah terpengaruh dengan aksi jumpa pers beberapa orang mantan petugas KPPS yang memperlihatkan form C1 yg menurut mereka hasilnya berbeda dengan yang di release KPU. 

 

Tindakan melakukan jumpa pers dan memperlihatkan hasil form C1 tidak diatur dalam ketentuan mekanisme pemungutan suara dan penghitungan hasil pemungutan suara. 

 

Hasil pemungutan suara itu diumumkan sesaat setelah penghitungan suara dan hasilnya juga ditempel di lokasi pemungutan suara. 

 

Kalau baru sekarang mereka memperlihatkan kepada publik, justru itu yang patut dicurigai. Cara-cara seperti itu tidak ada dalam aturan, bahwa KPPS mengumumkan lewat jumpa pers, beberapa hari setelah penghitungan suara, karena hasil itu sudah ada sejak penghitungan suara di TPS, ada yang ditempel di TPS, dan ada asli yang dimasukkan ke dalam kotak suara. 

 

Hasil berupa form C1 dalam kotak suara, harus tersegel tidak bisa diutak-atik lagi, hanya bisa dibuka pada saat rekapitulasi di tingkat PPK kecamatan.

 

Sungguh hal aneh dan sangat menggelikan, kalau tiba-tiba ada KPPS yang memperlihatkan form C1 yang menurutnya angkanya berbeda dengan yang rilis KPU. Tentu publik bertanya yang mana harus dipercaya?

 

Form C1 yang ada di tangan KPPS itu sudah beberapa hari ditangannya, bisa saja sudah dilakukan perubahan tanpa sepengetahuan saksi dan PPL yang hadir saat penghitungan, yang harus menjadi patokan adalah dokumen form C1 yang ada dalam kotak suara. 

 

Bisa saja form C1 yang diperlihatkan itu sudah diganti angkanya, KPPS yang ditangkap di Kecamatan Manggala itu kan ditemukan Form C1 yang sudah ditanda tangani tapi masih kosong angka-angka perolehan suaranya. 

 

Kalau modus yang seperti itu sih sudah klasik, caranya saat rekap di TPS, beberapa form C1 di tanda tangani, termasuk ditandatangani saksi dan PPL, biasanya alasannya nanti angkanya diisi kemudian karena alasan waktu yang mepet, itu modus KPPS nakal, dalam pilkda, pileg atau pilpres itu sudah  biasa mereka lakukan kejahatan seperti itu. 

 

Tim Hukum Appi-Cicu, sangat menyesalkan adanya tindakan tidak terpuji dari sejumlah KPPS, yang bertindak seolah-olah menjadi tim pemenagan kotak kosong, yang menjalankan perintah dari pejabat strukturan pemkot makassar. 

 

Satu kesyukuran karena tim Appi-Cicu itu solid sampai ke bawah, sehingga mampu menjaga dan memantau setiap hal yang mencurigakan pihak-pihak yang berusaha mendekati kotak kosong. 

 

Bisa dibayangkan, tempat penyimpanan kotak kosong harusnya steril dari siapapun juga, ini malah ada Plt. Camat yang membuat acara makan-makan di tengah malam di kantor camat. Luar biasa ini perilaku laku tidak terpuji dari pemerintah kota makassar.

 

Panwas yang seharusnya menjadi wasit sangat tidak adil, tidak ada satupun teguran yang seharus sudah diberikan kepada oknum pemkot yang berusaha mengacaukan hasil pemilihan suara. 

 

Jadi kalau di makassar, Appi-Cicu itu melawan kotak kosong sama saja melawan oknum Pemkot Kota Makassar, mulai dari Walikota Makassar sampai jajarannya ke bawah.

 

Bahkan setelah penghitungan suara nampak walikota makassar langsung selebrasi kemenangan padahal hasil yang dihitung baru 1%, ini yang sangat mengherankan, mungkin beliu lupa, kalau bukan paslon dalam Pilwalkot ini.

 

  • Ruslan